Popular Posts

Friday, February 24, 2012

Teaching Students with LOVE



Teaching With Love
Oleh Iis Humaeroh
Editors: Crew Majalah Al-Zaytun
Guru di kelas adalah seorang dirijen (conductor) sebuah orkestra dan siswa bagaikan pemain orkestra yang memainkan alat musik yang berlainan dengan kemampuan bermain yang berbeda- beda. Setiap siswa adalah pribadi yang unik dan berbeda satu sama lain, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Anda harus berusaha menyelaminya,  Anda harus memahami jiwa,  perasaan,  kepribadian atau pun kecerdasan mereka. 
          Cinta  dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya itu adalah fitrah, dan cinta kasih seseorang kepada pasangannya itu adalah naluri yang ada pada diri setiap insan. Dia mengharapkan balasan cinta dan balasan kasih dari seseorang yang dia cintai dan kasihi. Bagaimanakah dengan cinta  dan kasih sayang seorang guru kepada siswa- siswinya? Padahal  mereka tidak terikat oleh hubungan darah dan mereka baru saling mengenal satu sama lain, namun tanpa diundang cinta datang begitu saja tanpa mengharapkan balasan apa pun dan tanpa rekayasa apa pun, sungguh luar biasa!. Lalu, pernahkah Anda jatuh cinta?
Kata orang jatuh cinta itu berjuta rasanya, pernahkah Anda sebagai guru tiba- tiba merindukan mereka dan ingin segera bertemu, Anda tersenyum karena ingat suasana di kelas yang sangat menyenangkan, Anda juga tersenyum karena kelucuan, kepolosan dan kehebatan mereka. Jika Anda pernah merasakan hal seperti ini  berarti Anda telah jatuh cinta. Cinta telah memasuki relung hati, cinta telah memasuki jiwa, dan cinta telah menghiasi hidup Anda. Berbahagialah karena apa yang Anda rasakan, mereka pun merasakannya, sebuah cinta yang tulus dan ikhlas.
Jika virus-virus cinta sudah menyebar ke dalam jiwa, maka Anda akan selalu melibatkannya dalam setiap kesempatan. Dalam shalat  Anda tidak hanya berdoa untuk diri dan keluarga saja, wajah- wajah mereka hadir dalam doa, sebuah doa untuk harapan dan cita- cita mereka menjadi hamba yang mengenal  Robb-nya, menjadi anak- anak yang soleh dan solehah. Tak lupa pula Anda memanjatkan doa kepada Allah Swt. semoga kata- kata, nasihat atau ilmu yang disampaikan dapat menyentuh hatinya, hati yang  putih  bersih tanpa noda sedikit pun.
Karena  cinta sudah tumbuh subur dalam jiwa Anda, maka Andapun selalu ingin memberikan yang terbaik untuk mereka, apa yang akan diberikan besok ketika mengajar? Anda mulai merancang ice breaking, materi, metode, media dan skenario apa yang cocok untuk mereka? Sudah pasti Anda harus membaca beberapa literatur buku, searching di internet, diskusi  dan lain sebagainya. Setelah menemukan menu  yang  pas untuk mereka, Anda pun harus mengidentifikasi  tipikal  dan ciri khas siswa baik perorangan atau pun keseluruhan sebagai bahan untuk mengemas materi yang akan disampaikan. Apakah kelas itu didominasi oleh siswa yang memiliki kecerdasan linguistik, kinestetik, logis matematis, spasial-visual ataupun kecerdasan yang lainnya.
Pagi  hari yang ditunggu- tunggu pun tiba, berangkat ke sekolah dengan penuh semangat dan bahagia. Sepanjang jalan Anda mendapatkan salam,sapaan, senyuman dan lambaian tangan dari mereka, dan Anda pun tidak merasa berat hati untuk menebar senyum dan menyapa lebih dulu, walaupun hanya sekedar menanyakan kabarnya, mencandainya ,memuji pakaiannya yang rapi,    atau menanyakan kenapa tidak pakai seragam ? dan kenapa  kemarin tidak masuk sekolah?.
Setelah menebarkan senyum  dan sapaan untuk semua siswa, sampai tidak ada yang  terlewatkan satupun dari jangkauan area  cinta  Anda, jangan lupa pastikan mereka merasakan  bulir- bulir  cinta yang Anda tebarkan. Saatnya menggelar sebuah “pertunjukkan” yang menarik, guru di kelas adalah seorang dirijen (conductor) sebuah orkestra dan siswa bagaikan pemain orkestra yang memainkan alat musik yang berlainan dengan kemampuan bermain yang berbeda- beda. Setiap siswa adalah pribadi yang unik dan berbeda satu sama lain, dengan segala kekurangan dan kelebihannya Anda harus berusaha menyelaminya, Anda harus memahami jiwa, perasaan, kepribadian ataupun kecerdasan mereka. Begitupun mereka merasa senang dan nyaman jika bersama dengan Anda, Anda dan mereka sudah berada dalam zona cinta, maka Anda telah memasuki  dunia mereka, dan merekapun masuk pada dunia Anda, dalam Quantum Learning dikenal dengan, Bawalah dunia kita ke dunia mereka, dan tariklah dunia mereka ke dunia kita”.
 “Pertunjukkan” pun telah usai, rasanya cepat sekali waktu berlalu, begitu pun mereka merasakan hal yang sama, ada saja komentar yang membuat Anda tersanjung, “Ya… waktunya kok sudah habis sih….tambah lima menit lagi deh… ! Bersyukurlah, karena Anda telah berhasil membuat mereka belajar dengan happy. Kehadiran Anda di kelas akan selalu ditunggu- tunggu mereka, inilah yang membuat Anda menjadi lebih baik dan lebih cerdas, karena Anda tidak mau esok mengajar sama kualitasnya dengan kemarin mengajar, Anda ingin memberikan yang terbaik untuk mereka, hari  ini harus lebih baik dari hari  kemarin, dengan senang hati Anda selalu meng “up grade” diri Anda sendiri, jadi benarlah apa yang dikatakan Paul Valery bahwa , Murid- murid kita akan mengajar kepada kita seribu kali lebih banyak dari guru- guru kita.
Sepanjang hari bersama mereka, banyak hal yang didapatkan, banyak pengalaman yang mengesankan, ada siswa yang selalu menulis apa pun yang Anda katakan, ada siswa yang sangat aktif, ada siswa yang  kritis, ada siswa yang kreatif, ada siswa yang selalu komentar ,ada siswa yang pendiam dan selalu tersenyum, ada siswa yang senyumnya mahal, ada siswa yang kelebihan energi, ada siswa yang hobi menguji kecerdasan emosi gurunya, ada siswa yang tidak betah duduk di kursinya sendiri, ada siswa yang pandai membuat sekelas bisa tertawa lepas dan ada juga siswa yang  memunyai seribu satu macam alasan karena tidak mengerjakan “PR”.
Ada suatu kebanggaan ketika Anda mampu membakar semangat belajar mereka, pandai memancing file- file akalnya, membuat mereka merasa dihargai dan dicintai, membuat mereka tertawa, dan membuat mereka termotivasi untuk memiliki dan menggapai impiannya yang besar. Seandainya Anda merasa belum berhasil membuat mereka mengerti arti  penting belajar, belum berhasil membuat mereka tersenyum bahagia , belum menemukan ragam kecerdasannya atau pun Anda belum berhasil meraih hati dan cintanya. Semua itu tidaklah membuat Anda jenuh ,bosan bahkan putus asa. Malah sebaliknya Anda semakin menyadarinya, sehingga membuat Anda semakin semangat untuk belajar dan terus belajar serta memperbaiki kualitas diri, agar Anda mampu memberikan yang terbaik untuk mereka.
Berteman dan bersahabat  dengan mereka adalah sesuatu yang sangat menyenangkan,serasa meminum segelas “multivitamin” yang bisa menyegarkan tubuh yang lelah, yang bisa mengembalikan keceriaan dan semangat hidup. Sampai kapan pun Anda tidak akan sanggup hidup tanpa mereka ,karena Anda telah jatuh cinta.  Anda tidak bertepuk sebelah tangan,percaya dan  yakinlah bahwa merekapun telah jatuh cinta pada Anda, sambutlah mereka dan segera katakan“ I love you super student.” Sahabatku, anak- anakku, terimakasih……, karena engkau telah mengajariku tentang  makna cinta sejati.  I’ll always miss you....”

Beragama bukan untuk menciptakan kesukaran

Syaykh Al-Zaytun Dr AS Panji Gumilang dalam even Knight's Investiture; menerima penganugerahan gelar  'Datuk Katurunan ' dari Royal Hashemite Sultanate of Sulu and Sabah di Kampus Al-Zaytun tepat pada peringatan hari 1 Muharram 1432 H.Sementara Umi mendapat gelaran sebagai 'Datin'

Horizon 
Agama (Beragama)
Bukan untuk Menciptakan Kesukaran
Oleh: Dr Syaykh Panji Gumilang
Editor: Crew Majalah Al-Zaytun
Motto:
1.     Dia (Tuhan) telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran (kesulitan) untukmu dalam agama Q.S. 22:78.
هو اجتباكم وما جعل عليكم فى الدين من حرج
2.     Aku (Nabi Muhammad SAW) diutus untuk menyampaikan aqidah tauhid yang lurus dan perilaku yang penuh toleransi
بُعِثتُ بِالحَنِيفِيَّةِ السَّمحَةِ (الحديث)
Pelaksanaan Idul Kurban tahun ini 1432H/2011M dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, diapit oleh dua hari bersejarah yang selalu dikenang oleh bangsa Indonesia yaitu 28 Oktober merupakan hari Sumpah Pemuda dan 10 November sebagai hari Pahlawan.
28 Oktober 1928 adalah hari bulan diproklamasikannya tekad dan kemauan untuk bersatu oleh kaum pemuda demi terwujudnya satu negara, bangsa, dan bahasa Indonesia. Sehingga dengan tekad dan kemauan yang menggumpal sebagai sumpah tersebut, menjadi semakin bulat dan kuat semangat menuju pencapaian proklamasi kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman penjajah bangsa asing.
Sedangkan 10 November dikenang sebagai hari Pahlawan, merupakan peringatan terhadap peristiwa penting sejarah kemerdekaan Indonesia. Di hari bulan tersebut tahun 1945, berlangsung peperangan dahsyat antara pemuda Surabaya dan tentara koalisi (sekutu) yang bertujuan menduduki kembali Indonesia melalui Surabaya, Jawa Timur. Sekalipun peperangan itu terjadi di Surabaya, namun hari bulan tersebut dijadikan simbol perlawanan nasional bangsa Indonesia terhadap penjajahan. Dan ditetapkan sebagai hari pahlawan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia karena banyaknya korban jiwa sebagai pahlawan dalam peperangan tersebut.
Hari ini 6 November, kita menyambut Idul Kurban/Idul Adha. Bersamaan dengan pelaksanaan shalat Idul Adha, peristiwa kisah suci tentang Nabi Ibrahim menyembelih putra kesayangannya selalu diperingati oleh kaum muslimin, dengan menyembelih binatang kurban, baik oleh mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji maupun oleh mereka yang tidak pergi melaksanakannya.
Menyembelih binatang kurban, begitu juga berpakaian ihram dalam pelaksanaan haji dan sejenak wukuf di padang Arafah, semuanya adalah pelaksanaan ritual simbolik.Semuanya terpulang kepada pelakunya, seberapa jauh dan dalam, seseorang pelaku ritual itu memaknai dan mengambil hikmah daripadanya.
Yang pasti semua pesan ritual simbolik yang dilaksanakan sebagai bentuk ibadah, harus kita hayati secara mendalam dan substantif, yaitu pesan moralitas dan spiritual sebagai tujuan setiap ibadah yang kita laksanakan. Agar dalam keseharian, ibadah kita tidak menimbulkan paradoksi, antara kecenderungan keberagamaan yang ditandai oleh semakin semaraknya ritual keagamaan. Sedang di sisi lain pesan moral daripadanya, yang dipesankan oleh agama kehilangan sendi-sendi kesalehan sosialnya.
Karenanya, menyenyawakan antara kehidupan beragama dan kehidupan bermasyarakat, menjadi suatu keharusan dalam kehidupan keseharian.
Agama dalam definisi sederhana adalah aturan atau tata cara hidup manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Sedangkan masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi, menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang berkesinambungan, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Karenanya, pelaksanaan berbagai ritual yang simbolis itu harus dapat melatih diri pelakunya, menjadi semakin berkemampuan mewujudkan interaksi positif dalam kesatuan hidup sesama umat manusia dan lingkungannya dan yang semakin berkualitas. Menjadikan dirinya lebih berguna dan bermanfaat bagi setiap umat manusia. Wujud nyata dari keberagamaan yang benar adalah kemampuan bebuat baik bagi sesama manusia, dan itu pula suatu bukti kebenaran iman seseorang kepada Tuhannya.
Mari kita telaah lebih mendalam tentang kurban itu. Mengapa kita dituntut untuk memiliki semangat berkurban yang setinggi-tingginya. Mengapa kita diperintahkan untuk mencontoh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, dan mempelajari semangat pengorbanan mereka.
Kurban adalah perkataan Arab, yang artinya adalah “pendekatan”, yaitu pendekatan kepada Tuhan. Maka, melakukan kurban adalah melakukan sesuatu yang mendekatkan diri kepada Tuhan yakni mendekatkan diri kita kepada tujuan hidup. Sebab, kita berasal dari Tuhan dan kembali kepada-Nya.
Tindakan berkurban adalah tindakan yang disertai pandangan jauh ke depan yang menunjukkan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sesaat, kesenangan sementara, kemudian melupakan kebahagiaan abadi, kebahagiaan selama-lamanya.
Oleh karena itu, makna berkurban ialah bahwa dalam hidup kita melihat jauh ke masa depan dan tidak boleh terkecoh oleh masa kini yang sedang kita alami, bahwa kita tabah dan sabar menanggung segala beban yang berat dalam hidup kita saat sekarang. Sebab, kita tahu dan yakin bahwa di belakang hari kita akan memperoleh hasil dari usaha, perjuangan, dan jerih payah kita.
Maka kita maknai, berkurban ialah, bahwa kita sanggup menunda kenikmatan kecil dan sesaat demi mencapai kebahagiaan yang lebih besar dan kekal. Kita bersedia bersusah payah karena hanya dengan susah payah suatu tujuan tercapai, dan cita-cita terlaksana. Semangat berkurban adalah konsekuensi iman dan takwa kepada Allah. Sebab, takwa itu jika dijalankan dengan ketulusan dan kesungguhan akan membuat kita berkemampuan melihat jauh ke depan, mampu menginsafi akibat-akibat perbuatan saat ini di kemudian hari, kemudian menyong­song masa mendatang dengan penuh harapan.
Tujuan Berkurban (Umum)
Tujuan kurban dan pengurbanan yang pernah dicontohkan oleh Abul Basyaar al-Tsani Ibrahim ‘alaihissalam adalah sebuah usaha terciptanya kehidupan yang penuh kedamaian dan kesejahteraan, penuh keimanan dan keadilan serta penghormatan terhadap tatanan hukum yang diberlakukan oleh sang pencipta. Dan yang sedemikian itulah hakikat hidup dan kehidupan manusia di muka bumi ini yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.
Ibrahim a.s. merupakan prototype hamba Allah yang sanggup mengarahkan segala langkah pengorbanannya kepada tujuan tersebut dan survive, mampu mengatasi berbagai rintangan dan cobaan dalam mengarungi kehidupan di muka bumi ini. Karenanya Allah mengabadikan penobatannya (pengang­katan Ibrahim a.s.) sebagai pemimpin umat manusia.
Tujuan Berkurban (Khusus)
Dunia yang terdiri dari 217 negara besar dan kecil, yang telah merdeka maupun masih dalam protektorat negara lain, jumlah penduduknya di awal abad ke-21 ini, telah mencapai: 7 milyar orang, 45,73% mendiami empat negara berpenduduk besar (Cina, India, Amerika dan Indonesia). Seakan menggam­barkan perwakilan pemeluk agama-agama besar dunia: Budha, Hindu, Kristen, dan Islam. Indonesia sendiri penduduknya mencapai hampir 3,5 % (3,464%) dari seluruh penduduk dunia.
Indonesia yang berpotensi seperti itu, kini dan masa depan harus ditata dan dihantarkan menjadi sebuah negara yang memiliki peran besar bagi umat manusia sedunia. Berperan dalam menyumbang keperluan pangan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesejahteraan, kestabilan politik dan keamanan serta perdamaian dunia. Menghantarkan Indonesia menjadi sebuah negara memiliki peran besar bagi umat manusia sedunia, sungguh sangat memerlukan pengurbanan dari setiap penduduk dan pemimpin bangsa, dari lapisan yang paling bawah hingga yang paling atas. Pengurbanan yang diperlukan adalah pengurbanan dalam makna yang seluas-luasnya, menyangkut moral dan material. Pengurbanan yang dengannya mampu menyatukan bangsa ini menjadi seperti semboyannya, Unity in Diversity – Bhinneka Tunggal Ika.
Membangun Karakter Bangsa
Membangun karakter menjadi sangat diperlukan dalam memaknai kehidupan merdeka yang telah dicapai oleh bangsa kita atas karunia Allah. Pendahulu kita telah menghantarkan hidup merdeka dari kehidupan kolonialis dan imperialis penjajah, karena mereka memiliki kegigihan. Gigih telah menjadi watak mereka, sehingga mampu menghantar dan mewujudkan kemerdekaan kepada bangsanya, mereka itulah para pahlawan.
Membangun karakter bangsa adalah membangun pandangan hidup, tujuan hidup, falsafah hidup, rahasia hidup serta pegangan hidup suatu bangsa. Sebagai bangsa, bangsa Indonesia telah memiliki pegangan hidup yang jelas. Dimulai sejak dikumandangkannya Proclamation of Independence Indonesia dan dicetuskannya Declaration of Independence daripada Indonesia, sebagai cetusan kemerdekaan dan dasar kemerdekaan, sekaligus menghidupkan kepribadian bangsa Indonesia dalam arti kata yang seluas-luasnya, meliputi kepribadian politik, kepribadian ekonomi, kepribadian sosial, kepribadian kebudayaan atau kepribadian nasional.
Disaat bangsa Indonesia dalam suasana memperingati hari Pahlawan 10 November, dan merayakan ‘Idul Adha ini marilah kita sebagai bangsa, bercermin, dan kaca cermin yang kita gunakan adalah cita-cita kemerdekaan Indonesia, yakni: merdeka untuk bersatu, berdaulat, adil makmur, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ketertiban dunia, perdamaian abadi, keadilan sosial, berkedaulatan rakyat, iman kepada Tuhan YME,kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Membangun dari Masa ke Masa
Namun Indonesia sebagai negara, bangsa, yang intinya adalah rakyat yang menjunjung tinggi eksistensinya, sangat memerlukan definisi real terhadap kerja/usaha membangun Indonesia yang dicintai ini. Sehingga kesinambungan pembangunan dari masa ke masa tidak terputus hanya karena ketidakmampuan penanggung jawab pembangunan mendefinisikan kelanjutan pembangunan Indonesia yang sama-sama kita cintai.
Indonesia yang telah kita proklamasikan kemerdekaannya itu, berupa masyarakat majemuk, yakni masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok persatuan yang sering memiliki kebudayaan yang berbeda. Namun karena kecintaannya terhadap Indonesia sebagai negara, bangsa, dan bahasanya, terciptalah suatu ikatan: Bersatu di dalam kepelbagaian.
Karenanya Indonesia bagi bangsanya semestinya dapat menjadi rumah tempat berteduh bagi individu penghuninya yang majemuk itu. Rumah Indonesia akan dapat berfungsi peneduh secara hakiki, jika individu maupun kelompok penghuninya tidak egoistik/ananiyah. Namun fungsi peneduh yang hakiki itu dapat dirasakan dengan seksama jika sikap dan jiwa altruistik/nahniyah/kebersamaan dalam arti seluas-luasnya dapat diwujudkan dalam rumah Indonesia ini.
Penghuni rumah Indonesia yang pluralistik ini semestinya tampil secara sadar sebagai aktor pembangunan sikap dan jiwa altruistik/nahniyah. Sekat-sekat budaya, ras, dan agama semestinya tidak menjadi penghambat penghuni rumah Indonesia. Ras, budaya, agama, dan lain-lain yang dimiliki oleh penghuni rumah Indonesia ini kita miliki untuk memperkaya subjek dalam melakukan sesuatu di dalam rumah Indonesia ini. Kita jadikan kekayaan budaya itu untuk meningkatkan kecerdasan pikiran kita, mempertebal sikap toleransi dalam memiliki dan menyampaikan kehendak, memperhalus memaknai kebebasan dan kemerdekaan yang kita miliki, selanjutnya dapat memberikan arti dan makna atas segala sesuatu yang kita lakukan dan karenanya kita mampu menilai tindakan dan hasil tindakan kita sendiri. Membangun jiwa kekitaan yang tumbuh dari keluarga besar rumah Indonesia dengan sadar, akan mengangkat harkat dan martabat Indonesia kini dan mendatang.
Sebagai negara yang berdasar atas kemanusiaan yang adil dan beradab, yang telah dijabarkan oleh UUD negara dalam bab hak asasi manusia, yang secara panjang lebar diurai dalam berbagai pasal dan ayat-ayatnya, bahkan dipertegas lagi dalam petunjuk detail berupa UU tentang hak azasi manusia. Semuanya itu agar dapat melindungi manusia/kemanusiaan serta mengajak dan mendorong bangsa Indonesia agar dapat memiliki budaya saling mengorangkan orang.
Menggalang Solidaritas Sesama Bangsa
Mari kita yakini bahwa kita bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang majemuk, majemuk dalam kesukuan, keagamaan, ras, dan golongan, namun menyatu dalam kebangsaan, yakni Indonesia. Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya kecuali yang hidupnya dapat lebih bermanfaat dan menyebarkan manfaat bagi kemaslahatan hidup bangsanya dan manusia pada umumnya.
Solidaritas yang kita maksudkan adalah, sifat satu rasa, senasib, setia kawan, dll. Sifat solidaritas semacam ini baru akan timbul jika kita telah menyatu dalam pola pikir dan sistem berpikir bersumber dari dasar yang sama, yakni nilai-nilai dasar negara Indonesia yang telah disepakati. Dengan didukung oleh potensi-potensi yang dimiliki oleh warga bangsa dan didukung oleh rasa solidaritas yang tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan, kita yakin, harapan kita untuk  masuk ke dalam masa depan yang  cerah dalam wujud Indonesia kuat, menjadi sangat mungkin untuk wujud.
Bumi Harus Diselamatkan
Mengapa bumi harus diselamatkan dari kerusakan maupun kehancuran? Sebab bumi (tanah) adalah asal kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, ke dalam bumi pula disemayamkan, dan per­gantian generasi selanjutnya bersumber dari bumi yang kita huni ini.
Menurut keyakinan umat beriman maupun manusia secara keseluruhan, bumi dan isinya adalah karunia Ilahi, karunia paripurna yang dianugerahkan kepada umat manusia. Dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatannya, untuk itu manusia dikarunia akal, naluri, dan kodrat alamiah untuk kelanjutan hidup masing-masing.
Bangsa Indonesia Ikut Bertanggung Jawab
Sejak dikumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia dengan tegas menyatakan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Oleh sebab itu, gejolak apa pun yang terjadi di muka bumi ini, Indonesia berkewajiban ikut meredamnya, itu sebuah konsekuensi.
Oleh sebab itu, bangsa Indonesia telah membentuk dan memiliki pemerintah negara, yang fungsinya untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tanah air Indonesia sudah sewajibnya bertindak arif dan bijak menetapkan kebijakan-kebijakan dan rencana strategis berbentuk program aksi yang jelas dan terkontrol dalam menghadapi berbagai isu besar permasalahan global yang sudah pasti dampaknya akan menimpa negara kepulauan Indonesia ini.
Kesadaran individu menuju terciptanya kesadaran bersama dalam menghadapi segala macam tantangan kehidupan harus terus dibangun. Musibah, bencana, kecelakaan dalam kehidupan, datangnya selamanya tidak pernah memilih dan memilah objek/sasaran maupun korbannya.
Kesadaran yang kita bangun adalah, kesadaran memelihara lingkungan hidup, memelihara bumi tempat kita tinggal. Kita ciptakan suasana lingkungan yang asri. Bumi yang memiliki dan mampu menampung air yang bersih, penuh tegakan pohon rimba yang tertata kerimbunannya, berisi berbagai macam ternak yang sehat dan menyehatkan, penuh dengan tanaman pangan yang dapat membantu pangan dan pakan menuju pertumbuhan kesehatan bangsa dan umat manusia serta makhluk hidup lainnya.
Berkurban adalah berjuang, sebaliknya berjuang adalah berkurban. Selanjutnya, suatu pertanyaan kita sampaikan, “Untuk apa berkurban, untuk apa pula berjuang? Banyak jawaban yang dapat disampaikan, namun dalam kesempatan ini ada baiknya kalau pertanyaan itu kita beri jawaban sebagai berikut, “Kita berkurban dan berjuang untuk mewujudkan perdamaian abadi bagi kehidupan umat manusia kini dan mendatang.
Meng-update Indonesia harus dengan visi masa depan yang jelas. Visi tentang masa depan Indonesia yang diinginkan bersama menjadi sangat perlu bagi bangsa Indonesia. Sebab tanpa visi, bangsa ini akan hancur. Mengapa kita harus bervisi untuk masa depan Indonesia, karena masa depan Indonesia bukan sebuah hadiah yang datang begitu saja, melainkan sebuah achievement (prestasi) yang dibuat oleh Indonesia itu sendiri. Masa depan Indonesia adalah sesuatu yang belum datang dan belum ada, tapi ia pasti datang dan ada, entah berbentuk kebaikan maupun sebaliknya. Tapi kita sebagai bangsa memunyai hak untuk menggambarkan suatu peta masa depan Indonesia yang kita kehendaki. Dari peta itulah kita dapat menapak jalan kemajuan dan prestasi yang kita kehendaki.
Saat ini kebebasan telah kita miliki, namun sinar yang menunjuki perjalanan di kegelapan belum kita nyalakan. Kebebas­an Indonesia tetap gelap sebab sinar Pendidikan belum kita tata dengan serius. Indonesia tetap gelap karena ekonomi kita belum kita atur dengan jujur. Indonesia tetap gelap karena energi kita belum kita kuasai dengan sempurna. Indonesia tetap gelap karena environment kita terus kita rusak. Indonesia akan menjadi terang benderang dan menjadi strong jika ada empat E besar.  “4 Big E (Education, Economy, Energy, Environment) telah menjadi strength secara nyata.

Wednesday, July 13, 2011

AKSI DAMAI AKAN DILAKUKAN MIM DKI JAKARTA 14 JULI 2011 DARI JAM 8 S.D JAM 18 WIB



Kepada Yth
Redaksi ALZAYTUN JOURNAL

Di
     TEMPAT

Perihal   : Press Release tentang rencana Unjuk Rasa damai
                  Tanggal 14 Juli 2011.

Dengan hormat,
Yang bertanda tangan dibawah ini Imam Prawoto,MBA (Humas Unjuk Rasa damai) dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Pengurus Masyarakat Indonesia membangun (MIM)  Provinsi DKI Jakarta, dengan ini menyampaikan beberapa hal sebagai berikut dibawah ini :
1.       Bahwa pada tanggal 14 Juli 2011 sebagian anggota MASYARAKAT INDONESIA MEMBANGUN (MIM) Provinsi DKI Jakarta akan menyelenggarakan Unjuk rasa damai dengan maksud seperti yang dituangkan dalam surat pemberitahuan unjuk rasa damai yang ditandatangani oleh Saudara Eko Priyanto,SE  Pengurus MIM (terlampir).
2.       Bahwa maksud unjuk rasa damai tersebut diatas, telahpun dituangkan dalam surat pemberitahuan kepada pihak Kepolisian dalam hal ini Polda Metro Jaya dan telah memperoleh tanda terima yang dilekatkan dalam copy surat pemberitahuan, yang dengan demikian menurut Undang Undang yang diberlakukan, Unjuk rasa damai yang akan kami lakukan telah memenuhi persyaratan dan tidak ada satupun aturan yang bisa menghentikan penyampaian aspirasi damai yang akan kami lakukan tersebut dalam point 1 diatas.
3.       Bahwa namun demikian perlu kami sampaikan juga dalam press release ini, bahwa upaya Unjuk rasa damai ini akan kami lakukan secara terus menerus, jika pihak yang berwajib dan atau pihak pihak tertentu terus menerus melakukan fitnah dan penekanan penekanan tanpa memberikan peluang bahkan mengabaikan hak asasi para pengasuh Pondok Pesantren Al-Zaytun Indramayu, dalam hal ini Syaykh AS Panji Gumilang dan segenap jajarannya, yang selama ini kami sokong baik moril maupun materil, karena kami yakin bahwa sokongan kami tersebut dipergunakan untuk membangun lembaga Pendidikan modern yang sejak tahun 1999 sampai saat ini secara berkesinambungan mendidik dan mencerdaskan anak bangsa, bahkan telah mendidik beratus ratus anak didik dari manca Negara, termasuk didalamnya dari Singapore, Malaysia, Timor Leste, Afrika Selatan dan lain lain, dimana jumlah alumninya melebihi 7000 Orang.
4.       Bahwa apa yang dilakukan oleh Syaykh AS Panji Gumilang beserta jajarannya tersebut diatas adalah merupakan tugas mulia yang dilaksanakan oleh Warga Negara Indonesia, dan dalam melaksanakan pengabdiannya yang bersangkutan menggunakan kurikulum yang diberlakukan oleh Pemerintah Republik  Indonesia, bahkan Pondok Pesantren Al-Zaytun mendapatkan perijinan dan akreditasi terbaik dari otoritas yang berhak mengeluarkan akreditasi di tanah air, dan sejak tahun 1999 sampai saat ini tidak ada satupun proses belajar mengajar yang mengarah pada doktrin radikalisme,bahkan Syaykh AS Panji Gumilang dan segenap jajarannya telah menanamkan pembelajaran dan pendidikan yang mengarah pada  kecintaan terhadap perdamaian dan rasa hormat kepada sesama, untuk itulah kemudian nama Pondok pesantren ini disebut sebagai “ Pusat Pendidikan, dan Pengembangan budaya Toleransi dan Perdamaian” atau the Center of Education,  Peace and Cultural  Development.
5.       Bahwa sejak tiga (3) bulan yang lalu, Hingar bingar pemberitaan tidak adil dari berbagai mass media di Indonesia, ditambah dengan berbagai ungkapan bernada menfitnah dari berbagai kalangan yang mempunyai tujuan negative dan iri hati terhadap keberhasilan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun dalam membangun infra struktur Pesantren, membuat pimpinan dan segenap jajarannya merasa lelah karenanya sangat berpengaruh terhadap proses belajar dan mengajar di lembaga Pendidikan yang kini mempunyai beri ribu santri tersebut. Walau untuk itu Menteri Agama RI (selaku Pimpinan kementerian yang bertanggung jawab langsung terhadap kelancaran proses belajar dan mengajar Pondok pesantren di Indonesia) telah memberikan statemen formal tentang Pondok Pesantren Al-Zaytun, termasuk juga statemen Pimpinan Pesantren Syaykh AS Panji Gumilang, namun demikian fitnah dan berbagai ketidak adilan terus diarahkan oleh berbagai pihak, bahkan beberapa tokoh sesama Muslim dengan gampangnya menghimbau agar pihak kepolisian menahan Syaykh AS Panji Gumilang.
6.       Bahwa kemudian Saudara Imam Supriyanto memanfaatkan hingar bingar tersebut diatas, dengan melaporkan Syaykh AS Panji Gumilang ke Mabes Polri dengan tuduhan memalsukan tanda tangannya sebagai anggota Pembina Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), dimana pihak Mabes Polri kemudian memproses laporan tersebut dengan jalan memeriksa seluruh anggota Pembina Yayasan, termasuk didalamnya Syaykh AS Panji Gumilang dan Ustadh Abdul Halim, dan menurut Pengacara Yayasan proses penyidikan terasa sangat ganjil dan seakan telah diberlakukan sebagai tersangka sejak pemeriksaan sebagai saksi (lihat laporan pengacara terlampir). Pada gilirannya Syaykh AS Panji Gumilang ditetapkan sebagai tersangka dan Ustadh Abdul Halim ditahan setelah proses BAP (Berita Acara pemeriksaan) dilakukan dan kini sudah lebih dari satu minggu berada di ruang tahanan Mabes POLRI jalan Trunojoyo Jakarta.
7.       Bahwa Pelapor tersebut diatas sebenarnya adalah anggota Pembina Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), yang telah keluar dari Pondok pesantren Al-Zaytun sejak tahun 2007 tanpa memberitahu alasan apapun dan tanpa menyerahkan tanggung jawabnya sebagai pimpinan yang bertanggung jawab terhadap kelancaran logistik Pondok pesantren, berbagai upaya telah di lakukan agar yang bersangkutan kembali ke Pondok Pesantren, tetapi  upaya anggota Pembina yayasan yang lain sia sia, sehingga anggota dean Pembina mengambil sikap untuk mengeluarkan yang bersangkutan dengan suara bulat, dan dengan arahan Notaris Yayasan, Ustadh Abdul Halim kemudian meminta Saudara Faiz salah satu karyawan Yayasan untuk meminta tandatangan yang bersangkutan dengan memberikan dana kompensasi  Rp. 3,500,000,- yang telah diterimanya, akan tetapi yang bersangkutan tidak mengakui tandatangannya dan melaporkan ke Mabes Polri, yang kemudian menambah hingar bingar tersebut diatas, sesuatu yang sangat meresahkan kami semua sebagai pendukung utama kelancaran proses belajar dan mengajar di Pondok pesantren yang dipimpin oleh Syaykh AS Panji Gumilang tersebut diatas.
8.       Bahwa sekalipun Saudara Imam Supriyanto telah melakukan upaya negative yang meresahkan banyak pihak termasuk menyangkut pautkan beberapa nama mantan Petinggi Negara, Intelijen, dan juga Ketua Dewan Syuro PKS, terlebih lagi sumpah serapah terhadap kepada Pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun, namun Syaykh AS panji Gumilang dan seluruh jajarannya dengan lapang dada menerima usulan pihak ketiga yang merasa sedih dengan kemelut yang terjadi, yang menghimbau adanya perdamaian, akan tetapi ketika usulan perdamaian itu di follow up, hasilnya adalah sangat merisaukan, karena pihak Pengacara dan juga Saudara Imam Supriyanto mengusulkan sejumlah angka yakni Rp. 600,000,000 (enam ratus juta rupiah) hanya untuk mendiamkan ajuan pengalihan tahanan, dan alasan penyebutan nama tersebut karena mereka sudah memberikan dana sejumlah Rp. 150,000,000,- ( sertaus limapuluh juta rupiah) kepada penyidik untuk menahan Ustadh Abdul Halim.
9.       Bahwa ketika salah seorang karyawan yayasan menanyakan bagaimana tehnisnya, pihak mediator hanya bisa menyebut dengan silent action dan dipertegas sehari seduah itu bahwa Imam Surpiyanto meminta kompensasi sejumlah Rp. 100,000,000,000,- ( seratus milyar rupiah) dengan alasan bahwa yang bersangkutan mempunyai saham dan lain sebagainya. Dengan demikian di ketahui bahwa motivasi saudara Imam Surpiyanto adalah untuk keuntungan pribadi semata mata. Jika benar bahwa Saudara Imam Supriyanto dan pengacaranya mengatakan bahwa mereka telah membayar pihak penyidik, maka hal itu adalah sebuah aib yang harus dipertanggung jawabkan, namun jika tidak benar, maka mereka telah melakukan fitnah bukan saja kepada pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun tetapi juga kepada pihak kepolisian yang kami yakini tidak akan bertindak seperti yang disampaikan oleh saudara Imam Supriyanto tersebut.
10.   Bahwa diatas semua yang kami sampaikan diatas, pada dasarnya kami melakukan unjuk rasa damai seperti yang disampaikan, adalah sebuah keterpaksaan, karena selama ini seakan Pimpinan Pondok pesantren Al-zaytun adalah sosok kriminal yang tidak berguna bagi nusa dan bangsa. Untuk itu tuntutan kami adalah berikan keadilan dan jauhkan fitnah yang berketerusan kepada Pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun. Terakhir kami akan melakukan unjuk rasa dengan peserta yang lebih besar jika tuntutan kami tersebut diabaikan dan kami semua peserta unjuk rasa damai yang saat ini jumlahnya antara 30,000 – 50,000 akan dengan sukarela menjamin Ustadh Halim dan Syaykh AS Panji Gumilang seperti yang di tentukan oleh Hukum Acara Pidana yang diberlakukan.

11.  Untuk itu semua, tuntutan kami adalah,
1.      Berikan keadilan kepada Pemangku Pondok Pesantren Al-Zaytun.
2.      Jangan fitnah terus menerus Pemangku Pondok Pesantren Al-Zaytun.
3.      Jangan ditahan Pemangku Pondok Pesantren Al-Zaytun walau satu hari sekalipun.
4.      Keluarkan ustadz Abdul Halim dari tahanan Mabes Polri.
5.      Silahkan lanjutkan proses hukum perkara ini secara adil dan netral.







Kepada ALLAH jua segalanya dikembalikan
Jakarta, 13 Juli 2011
Penuh Hormat,
Humas
Imam Prawoto, MBA
Hp. +6282133377362 / +6287711988441
Em. prawotoecs@gmail.com